Thursday, July 23, 2026

Sejarah Desa

Sejarah Singkat Desa

 

Desa Harapan Jaya merupakan salah satu desa yang terletak di lereng selatan lereng Gunung Pesawaran, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Berada di ketinggian sekitar 600 hingga 748 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa ini berbatasan langsung dengan kawasan blok tradisional Hutan Register 19 atau Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman.
Secara administratif dan historis, perjalanan Desa Harapan Jaya tidak terlepas dari dinamika perkembangan wilayah di daerah Padang Cermin dan Way Ratai.

 

 

Linimasa Perkembangan Wilayah

  • Masa Pembukaan Lahan dan Pemukiman Awal

    Era Transmigrasi / Perkebunan

    Sebelum menjadi desa mandiri, wilayah ini awalnya berupa kawasan hutan dan perkebunan di lereng Gunung Pesawaran. Seperti banyak wilayah di Pesawaran, pembukaan lahan di sini dihuni oleh para pendatang (transmigran) dan petani penggarap lahan komoditas perkebunan seperti kopi, cengkeh, dan pala.

  • Bagian dari Kecamatan Padang Cermin

    Hingga 2014

    Sebelum Kecamatan Way Ratai terbentuk, Desa Harapan Jaya masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Padang Cermin yang wilayahnya saat itu masih sangat luas. Desa ini mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan rakyat.

  • Pemekaran Kecamatan Way Ratai

    Berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Pesawaran Nomor 12 Tahun 2014, Kecamatan Padang Cermin dimekarkan menjadi tiga kecamatan, yaitu Padang Cermin (kecamatan induk), Teluk Pandan, dan Way Ratai. Sejak saat itu, Desa Harapan Jaya resmi berada di bawah naungan Kecamatan Way Ratai.

  • Transformasi Menjadi Desa Wisata

    2020 – Sekarang

    Masyarakat dan aparatur desa mulai mengoptimalkan potensi alam yang sejuk. Melalui semangat gotong royong, kawasan yang dulunya hanya perkebunan biasa disulap menjadi destinasi wisata alam dan agrowisata yang diakui secara nasional.

Karakteristik dan Identitas Desa

Nama “Harapan Jaya” secara harfiah mencerminkan doa dan cita-cita para tetua kampung terdahulu, agar wilayah perkampungan di lereng gunung ini membawa harapan yang besar bagi kesejahteraan warganya serta mampu mencapai masa kejayaan (jaya) melalui hasil bumi dan kebersamaan masyarakatnya.
Saat ini, Desa Harapan Jaya terbagi menjadi beberapa dusun (seperti Dusun Sinar Dua Bawah dan Dusun Sinar Tiga yang menjadi titik tertinggi di desa tersebut). Desa ini dikenal dengan beberapa identitas unik yang melekat pada sejarah perkembangannya:

  • Desa Seribu Bunga: Salah satu kebiasaan yang mengakar di masyarakat Harapan Jaya adalah merawat tanaman hias. Hampir setiap pekarangan rumah warga di seluruh dusun dihiasi oleh bunga warna-warni, sehingga desa ini mendapatkan julukan sebagai Desa Seribu Bunga.
  • Komoditas Kebun yang Khas: Jalur menuju desa ini dipenuhi oleh tanaman komoditas yang menjadi penopang ekonomi warga sejak lama, seperti pala, cengkeh, dan sereh wangi. Aroma sereh wangi yang disuling sering kali menjadi ciri khas yang menyambut siapa saja yang datang ke desa ini. Selain rempah dan tanaman obat di desa ini juga di topang oleh tanaman lain seperti kopi, palawija, hasil hutan bukan kayu (HHBK).
  • Semangat Gotong Royong (Kemitraan Tahura): Karena berbatasan langsung dengan Hutan Register 19, sejarah pengelolaan lahan di desa ini bertransisi menuju skema kemitraan konservasi tradisional. Warga menggarap lahan dengan menanam hasil hutan bukan kayu (HHBK) sekaligus menjaga kelestarian hutan. Salah satu bukti gotong royong warga yang paling terkenal adalah saat mereka membuka akses jalan dan mengelola Air Terjun Tirta serta Bukit Cendana secara swadaya hingga dikenal luas oleh wisatawan dan komunitas sepeda downhill.

Berkat konsistensi masyarakatnya dalam menjaga keasrian alam dan budaya gotong royong, Desa Harapan Jaya kini tidak hanya dikenal sebagai desa agraris, melainkan telah masuk dalam peta resmi jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).